Kumpulan Artikel

AvatarBerbagi Informasi, artikel dan sekalian Silaturahim. Sharing Sesuatu yang bermanfaat...Kenapa tidak..

Cara Menghitung Tenaga Kerja,Output dan Waktu Produksi

Di dalam produksi, kita sering dihadapi dengan beberapa perhitungan untuk mengetahui jumlah Tenaga kerja dan Jumlah Waktu kerja untuk mendapatkan Output yang diinginkan agar mencapai Produktivitas yang telah ditentukan. Di dalam Produksi, Produktivitas 100% merupakan persentase acuan untuk melakukan Perhitungan. Yang harus kita ketahui adalah Waktu Standar atau Standard Time (ST) yang diperlukan dalam mengerjakan satu unit produk. Waktu Standard (Standard Time atau ST) ini biasanya telah diperhitungkan dan ditentukan oleh para designer produk sesuai dengan standar yang telah ditetapkan.

Contoh sederhana Standard Time (ST) :

  • Memasangkan Komponen Resistor 1 unit     : 3 detik
  • Memasangkan Komponen Kapasitor 2 unit  : 6 detik
  • Melakukan Penyolderan 4 kaki komponen    : 8 detik
  • Melakukan Pemeriksaan Visual                      : 8 detik
  • Melakukan Inspeksi Function                           : 10 detik
  • Melakukan Packaging (Pembungkusan)       : 5 detik
Total : 40 detik (dijadikan menit menjadi 0.6 menit)
Perhitungan ST (Standard Time) biasanya menggunakan Menit.

Beberapa rumus perhitungan antara lain :

Menghitung Jumlah Tenaga Kerja yang diperlukan untuk menghasilkan Output tertentu di Waktu Kerja yang telah ditentukan :
  • Jumlah Tenaga Kerja  =  (ST x Output) / Waktu Kerja
Memhitung Waktu  Kerja yang diperlukan untuk menghasilkan Output tertentu dengan menggunakan Jumlah Tenaga Kerja yang telah ditentukan :
  • Waktu Kerja                     = (ST x Output) / Jumlah Tenaga Kerja
Menghitung Output yand didapat jika menggunakan Jumlah Tenaga Kerja dan Waktu Kerja tertentu :
  • Output                                 = (Waktu Kerja x Jumlah Tenaga Kerja) / ST
Contoh Kasus I :
PT. HarTech berencana untuk memproduksi Kalkulator dengan merek HarTech, Standard Time (ST) yang telah diperhitungkan dan ditentukan oleh para Designer Kalkulator adalah 10 menit untuk merakit sebuah Kalkulator. Waktu Kerja dalam sehari sesuai dengan peraturan pemerintah adalah 420 menit perhari dan PT. HarTech menargetkan untuk menghasilkan Output 1.000 unit kalkulator dalam 1 (satu) hari. Berapakah Tenaga Kerja yang diperlukan untuk mencapai Target Output tersebut?
Penyelesaiannya :
Diketahui :
ST                         = 10 menit
Waktu Kerja       = 420 menit
Target Output     = 1.000 unit
Dicari :
Tenaga Kerja yang diperlukan = ?
Tenaga Kerja = (ST x Output) / Waktu Kerja
Tenaga Kerja = (10menit x 1.000) / 420menit
Tenaga Kerja = 23,8 orang (atau dibulatkan menjadi 24 orang)
Maka berdasarkan perhitungan diatas, Untuk menghasilkan Output 1.000 unit dengan waktu 420menit diperlukan Tenaga kerja sebanyak 24 orang.

Contoh Kasus II :
PT.HarTech harus melakukan Rework (Pengerjaan Ulang) terhadap produk yang telah dihasilkan sebanyak 500 unit Kalkulator. Tenaga Kerja yang di lembur-kan untuk mengerjakan Rework sebanyak 10 orang. Menurut Perhitungan Process Engineer, waktu yang diperlukan untuk menyelesaikan Rework adalah 5 menit per unit. Berapakah Waktu Kerja yang diperlukan untuk menyelesaikan Rework tersebut ?
Penyelesaiannya :
Diketahui :
ST                         = 5 menit
Tenaga Kerja     = 10 orang
Target Output     = 500 unit
Dicari :
Waktu  yang diperlukan untuk menyelesaikan Rework  = ?
Waktu Kerja  = (ST x Output) / Tenaga Kerja
Waktu Kerja   = (5 menit x 500) / 10 orang
Waktu Kerja   = 250 menit
Maka berdasarkan perhitungan diatas, Untuk menyelesaikan Rework tersebut PT. HarTech memerlukan waktu kerja sebanyak 250 menit.

Catatan :
  • Waktu Kerja  = Working Time
  • Tenaga Kerja = Manpower
sumber: http://www.produksielektronik.com
-->

7 Macam Kategori Waste yang sering terjadi dalam industri Manufacturing


7 pemborosan dalam produksiWaste atau sering disebut dengan Muda  dalam bahasa Jepang merupakan sebuah kegiatan yang menyerap atau memboroskan sumber daya seperti pengeluaran biaya ataupun waktu tambahan tetapi tidak menambahkan nilai apapun dalam kegiatan tersebut. Menghilang Waste (Muda) merupakan prinsip dasar dalam Lean Manufacturing.  Konsep Penghilangan Waste (Muda) ini harus diajarkan ke setiap Anggota organisasi sehingga Efektifitas dan Efisiensi kerja dapat ditingkatkan.

7 Waste / 7 Muda / 7 Pemborosan pertama kali diperkenalkan oleh Taiichi Ono yang bekerja di TOYOTA Jepang dalam Sistem Produksi Toyota atau TOYOTA PRODUCTION SYSTEM.
toyota production system
Terdapat 2 jenis waste (Muda) yang mendasar yang harus dipertimbangkan dalam melakukan analisis penghilangan Waste (Muda) diantaranya  Jenis Obvious (Jelas) dan Jenis Hidden (tersembunyi).
Jenis Waste yang bersifat Obvious (Jelas) adalah sesuatu yang mudah di kenali dan dapat dihilangkan dengan segera dengan biaya yang kecil ataupun tanpa biaya sama sekali. Contohnya :
Sedangkan Jenis Waste yang bersifat Hidden (tersembunyi) adalah Waste yang hanya dapat dihilangkan dengan Metode kerja terbaru, bantuan Teknologi  ataupun Kebijakan baru.
Terdapat 7 Macam Kategori Waste yang sering terjadi dalam industri Manufacturing, diantaranya :
  1. Waste of Overproduction (Produksi yang berlebihan)

    Waste atau pemborosan yang terjadi karena kelebihan produksi baik yang berbentuk Finished Goods (Barang Jadi) maupun WIP (Barang Setengah Jadi) tetapi tidak ada order / pesan dari Customer. Beberapa Alasan akan adanya Overproduction (kelebihan Produksi) antara lain Waktu Setup Mesin yang lama, Kualitas yang rendah,  atau pemikiran “Just in case” ada yang memerlukannya.
  2. Waste of Inventory (Inventori)

    Waste atau pemborosan yang terjadi karena Inventory adalah Akumulasi dari Finished Goods (Barang Jadi), WIP (Barang Setengah Jadi) dan Bahan Mentah yang berlebihan di semua tahap produksi sehingga memerlukan tempat penyimpanan, Modal yang besar, orang yang mengawasinya dan pekerjaan dokumentasi (Paparwork).
  3. Waste of Defects (Cacat / Kerusakan)

    Waste atau Pemborosan yang terjadi karena buruknya kualitas atau adanya kerusakkan (defect) sehingga diperlukan perbaikan. Ini akan menyebabkan biaya tambahan yang berupa biaya tenaga kerja, komponen yang digunakan dalam perbaikan dan biaya-biaya lainnya.
  4. Waste of Transportation (Pemindahan/Transportasi)

    Waste atau Pemborosan yang terjadi karena tata letak (layout) produksi yang buruk, peng-organisasian tempat kerja yang kurang baik sehingga memerlukan kegiatan pemindahan barang dari satu tempat ke tempat lainnya. Contohnya Letak Gudang yang jauh dari Produksi.
  5. Waste of Motion (Gerakan)

    Waste atau Pemborosan yang terjadi karena Gerakan –gerakan Pekerja maupun Mesin yang tidak perlu dan tidak memberikan nilai tambah terhadap produk tersebut. Contohnya peletakan komponen yang jauh dari jangkauan operator, sehingga memerlukan gerakan melangkah dari posisi kerjanya untuk mengambil komponen tersebut.
  6. Waste of Waiting (Menunggu)

    Saat Seseorang atau Mesin tidak melakukan pekerjaan, status tersebut disebut menunggu. Menunggu bisa dikarenakan proses yang tidak seimbang sehingga ada pekerja maupun mesin yang harus mengunggu untuk melakukan pekerjaannya , Adanya kerusakkan Mesin, supply komponen yang terlambat, hilangnya alat kerja ataupun menunggu keputusan atau informasi tertentu.
  7. Waste of Overprocessing (Proses yang berlebihan)

    Tidak setiap proses bisa memberikan nilai tambah bagi produk yang diproduksi maupun customer. Proses yang tidak memberikan nilai tambah ini merupakan pemborosan atau proses yang berlebihan. Contohnya : proses inspeksi yang berulang kali, proses persetujuan yang harus melewati banyak orang, proses pembersihan. Semua Customer menginginkan produk yang berkualitas, tetapi yang terpenting adalah bukan proses Inspeksi berulang kali yang diperlukan tetapi bagaimana menjamin Kualitas Produk pada saat pembuatannya. Yang harus kita lakukan adalah Carikan Root Cause (akar penyebab) dari suatu permasalahan dan ambilkan tindakan (countermeasure) yang sesuai dengan akar penyebab tersebut.

Tujuh Pemborosan atau seven Waste ini disingkat dalam bahasa Inggris menjadi “TIMWOOD” menjadi :
  • T ransportation              →Transportasi
  • I nventory                         →Inventori
  • M otion                             →Gerakan
  • W aiting                            →Menunggu
  • O verprocessing             →Proses yang berlebihan
  • O verproduction             →Produksi yang berlebiha
  • D efect                               →Kerusakan
sumber:  http://www.produksielektronik.com

Bodol, Botol, dan Bobol

Ada satu pertanyaanyang menarik untuk kita simak dari seorang peserta Entrepreneur University angkatan ketiga di Jakarta beberapa waktu lalu. “Kenapa sih Pak, saya tak punya keberanian dalam berbisnis. Rasanya sulit sekali. Apalagi saya cukup punya duit, keahlian dan ide bisnis. Apa mungkin saya bisa berbisnis?” ujarnya. Saya yang ditanya soal masalah yang satu ini, sambil bercanda balik bertanya.”Apakah Bapak ketika masuk kamar mandi juga harus berpikir lebih dahulu satu atau dua jam sebelumnya?”, tanya saya. Dia agak terkejut mendengarnya, pikirnya kok aneh pertanyaan saya ini. “Ah…nggak perlu saya pikir dong, pak. Masak masuk kamar mandi saya harus pikir dulu satu atau dua jam sebelumnya. Wah, Bapak ini gimana sih,” jawabnya bersemangat. Mendengar jawaban spontan itu, serentak peserta yang sebagian besar ibu rumah tangga, karyawan, pensiunan, dosen, dan bahkan ada yang bergelar master serta docktor itu tertawa lepas. “ Yah, seperti itulah, kalau kita mau bisnis, “ jawab saya singkat. ”Enggak usah terlalu dipikir-pikir.”

Saya berpendapat, kenapa energi kita hanya untuk berpikir dan berpikir terus mau bisnis apa, tapi tidak ada wujudnya. Saya kira, kalau kita mau bisnis saja sudah terlalu banyak dipikir, bisa saja bisnis itu tidak akan terwujud. Padahal mungkin kita ada keinginan jadi pengusaha. Oleh karena itulah, kita harus memiliki keberanian untuk memiliki bisnis apapun yang kita inginkan. Misalnya saja, ketika kita memulai bisnis tapi menghadapi kendala tak punya modal, nggak usah bingung pakai saja jurus BODOL. Apa itu Bodol? Saya singkat dari kata”Berani, Optimis, Duit, Orang, Lain?. Maksud saya, dalam bisnis kita harus punya keberanian . Kita harus optimis. Nah, kalau enggak punya duit, kita bisa’pakai’ atau pinjam duitnya orang lain. Saya yakin, asal bisnis kita jelas, dan punya prospek bagus, pasti ada saja orang yang meminjamkan duit atau modal pada kita. Pinjam duit pada orang lain untuk bisnis saya kira sah-sah saja. Bahkan sering saya menyarankan, walaupun punya duit sebaiknya jangan dipakai duit sendiri untuk bisnis.

Kalau kita punya duit atau modal, tapi kita tidak ahli di bidang bisnis yang akan kita jalankan, saya rasa kita bisa saja pakai jurus BOTOL. Singkatan apa pula ini? Berani, Optimis, Tenaga, Orang, Lain. Artinya selain kita tetap punya keberanian dan optimis, kita pun bisa memakai tenaga orang lain atau kita bisa mencari orang yang ahli di bidangnya sehingga bisnis kita bisa jalan. Pendeknya tak harus bisnis itu kita jalankan dengan tenaga sendiri. Kalau ide bisnis pun ternyata tidak punya, maka jurus BOBOL bisa kita lakukan. Singkatan Berani, Optimis, Bisnis, Orang, Lain. Jadi kita harus berani dan optimis dalam melalui bisnis dengan meniru bisnis orang lain.

Nah, kenapa kita merasa sulit dan tak berani memulai bisnis, padahal setiap saat kita memiliki keberanian masuk kamar mandi. Kita masuk kamar mandi tanpa banyak berpikir. Kalau lantas airnya kurang hangat atau terlalu dingin, kita juga bisa mengaturnya. Seperti halnya bisnis kalu bisnis yang kita jalankan kurang berkembang, kita bisa atur. Bisa kita perbaiki mana yang kurang. Dan kalapun kita tak punya modal, tak punya keahlian atau tak punya ide, maka bisa saja memanfaatkan punya orng lain. Tapi yang penting, bisnis kita tetap jalan. Justru kekurangan bisnis kita disana sini akan membuat kita dewasa dalam berbisnis. Jiwa entrepreneur kita pun akan semakin berkembang.

Oleh karena itu, bagi kita yang mau memulai bisnis tapi tak punya keahlian, atau mungkin juga tak punya ide bisnis, saya sarankan coba saja menerapkan jurus Bodol, Botol, dan Bobol. Anda berani mencoba?

http://www.purdiechandra.net